Senin, 30 Agustus 2010

KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA


KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA

Keanekaragaman hayati di Indonesia dapat dibedakan berdasarkan karakteristik wilayah dan persebaran organisme

              1.    Berdasarkan Karakteristik wilayah
Secara astronomis, Indonesia terletak di antara 6oLu-11oLS dan 95o-141oBT. Artinya, Indonesia terletak di daerah iklim tropis (daerah tropis terletak di antara 23½ o LU dan 23½ o LS). Ciri ciri daerah tropis antara lain temperaturnya cukup tinggi (26o-28oC), curah hujan cukup banyak (700-7.000 mm/tahun), dan tanahnya subur karena proses pelapukan batuan cukup cepat.
Dilihat secara geografis, Indonesia terletak pada pertemuan dua rangkaian pegunungan muda, yakni sirkum Pasifik dan sirkum Meditrania. Ini menyebabkan Indonesia memiliki banyak gunung berapi. Hal tersebut menyebabkan tanah menjadi subur.
Keadaan lingkungan abiotik yang sangat bervariasi membuat Indonesia kaya akan hewan dan tumbuhan. Indonesia memiliki 10% dari seluruh spesies tanaman yang ada di dunia, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptile dan amfibi, serta 17% spesies burung dunia. Sejumlah spesies tersebut bersifat endemik, yaitu hanya terdapat di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat lain. Contohnya sebagai berikut:
a.       burung cendrawasi di papua
b.      burung maleo di Sulawesi
c.       komodo di pulau komodo
d.      anoa di Sulawesi
e.       refflesia arnoldii terdapat di pulau Sumatra dan penyebarannya di sepanjang Bukit Barisan dari Aceh sampai Lampung
f.       bunga bangkai (Amorphophallus sp) merupakan flora langka khas Indonesia. Lihat Gambar 6.4.
Selain spesies endemik, Indonesia juga kaya akan flora fauna yang bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan, misalnya sebagai berikut:
a.       bermacam-macam varietas durian (Durio zibethius), antara lain durian petruk dari Randusari Jepara, durian sitokong dari Raguna, durian sunan dari Boyolali, dan durian simas dari Bogor
b.      kedondong (Spondias cythrerea), misalnya kedondong karimunjawa berasal dari Karimunjawa.
c.       salak (Salacca edulis), misalnya salak pondoh, Jogyakarta, dan salak bajalen dari Ambarawa.

              2.    Berdasarkan Persebaran Organisme
persebaran organisme di muka bumi dipelajari dalam cabang biologi yang disebut biogerafi.
Studi tenyang penyebaran spesies menunjukkan bahwa spesies-spesies berasal dari satu tempat, namun selanjutnya menyebar ke berbagi daerah. Organisme tersebut kemudian mengalami diferensiasi menjadi subspecies dan spesies baru yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.
Penghalang (barier) geografi seperti gunung yang tinggi, gurun pasir, sungai, dan lautan membatasi penyebaran dan kompetisi dari suatu spesies (isolasi geografi). Adanya isolasi geografi juga menyebabkan perbedaan susunan flora dan fauna di berbagai temoat.
Menurut Alfred Russell Wallace, berdasarkan adanya persamaan fauna didaerah-daerah tertentu dibumi, maka dapat dibedakan 6 daerah biografi dunia, yaitu sebagai berikut:
a.       Nearktik: Amerika Utara
b.      Palearktik: Asia sebelah utara himalaya, Eropa dan Afrika, Gurun Sahara sebela utara.
c.       Neotropikal: Amerika selatan bagian tengah
d.      Oriental: Asia, Himalaya bagian selatan
e.       Ethopia: Afrika
f.       Australia: Australia dan pulau-pulau sekitarnya
Fauna di Indonesia mencerminkan posisinya di antara Benua Asia (Oriental) dan benua Australia.
Di antara papran sunda dan wilayah laut dalam redapat batas flora fauna Asia. Artinya, flora Asia hanya menyebar sampai batas tersebut. Batas ini disebut garis Wallace.
Diantara paparan sahul dan laut dalam di bagian tengah juga terdapat batas flora fauna Australia menyebar hanya sampai batas ini, Yaitu garis Weber.
Kepulauan Indonesia merupakan tempat kedua daerah biogerafi bertemu, yaitu kawasan Oriental yang amat kaya akan binatang mamalia dan kawasan Australia yang paling miskin akan binatang mamalia. Wallace memperhatikan sejumlah perbedaan pada flora dan faunanya. Ia berhasil menarik garis pada peta sedemikian rupa sehingga memisahkan kelompok kehidupan satu sama lain.
Jika dilihat secara sekilas, hanya ada sedikit perbedaan antara gugusan pualu yang dipisahkan oleh garis Wallece. Sebenarnya, deretan pulau tersebut merupakan dua kawasan yang terpisah secara fisik sekitar 80 juta tahun yang lalu karena terjadi pergeseran pada kerak bumi. Garis Wallece memisahkan mulai dari sebelah tenggara kepulauan Filipina, melewati antara pulau Mindanau dan Sangihe, terus keselatan di antara Kalimantan dan Sulawesi, termasuk Samudra Indonesia antara Bali dan Lombok.
Paparan Sunda dan Paparan sahul terjadi pada akhir masa Pleistosen. pada masa itu, terjadi perubahan permukaan air laut di seluruh dunia, karena mencairnya lapisan es dan gletser. Permukaan air laut kurang 150 meter. Akibatnya Indonesia Barat, daratan sunda tengelam, dan hanya bagian bagian yang tertinggi dari lipatan yang tertinggal sebagai kepulauan. Bagian yang sekarang berbatasan dengan Malasia, Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan selatan, dan Jawa Utara. Di bagian Timur, yaitu daratan sahul, juga tenggelam.

Papua terpisah dari Australia dan terbentuk laut Arafuru. Daerah-daerah yang tinggi membentuk pulau-pulau seperti Kepulauan Aru, dan daerah kepala burung(Papua).
Sesuai dengan garis Wallace, persebaran fauna di Indonesia terbagi menjadi wilayah barat (oriental) dan timur (Australia) yang masing-masing ditandai oleh fauna yang khas, Sementara itu, menurut garis Weber, di antara wilayah barat dan timur, atau antara Ortiental dan Australia, terdapat zona peraliahan. Lihat Gambar 6.5.
a.       Persebaran Fauna di wilayah Indonesia Barat (Oriental)
Bagian barat wilayah Indonesia yang termasuk paparan sunda memiliki fauna tipe Oriental, Contohnya berbagai jenis kera, gajah, hariamu, tapir, badak, kerbau liar, babi hutan, serta rusa.
1)      Sumatra memiliki hewan-hewan khas seperti gajah, tapir, badak bercula dua, hariamu, siamang dan orang hutan.
2)      Jawa memiliki badak bercula satu, hariamu, dan banteng.
3)      Kalimantan memiliki badak bercula dua, macan tutul, orang utan, kera berhidung panjang, dan beruang madu.
b.      Persebaran Fauna di wilayah Indonesia Timur (Australia)
Bagian timur  wilayah Indonesia di tempati fauan tipe Australia yang terdiri atas burung-burung dengan warna-warna mencolok misalnya kasuari, nuri, parkit, cendrawasi, dan merpati berjambul; serta beberapa jenis hewan berkantong, misalnya kanguru wallbi dan kanguru pohon. Di bagian tengah, misalnya Sulawesi, terdapat hewan yang khas yaitu anoa, dan di pulau Komodo terdapat Komodo.

c.       Zona peralihan antara Oriental dan Australia
Kalau kita menuju ke timr dari garis Wallace, jumlah hewan kawasan Oriental menyusut secara mencolok. Sebaliknya, menuju barat, jumlah hewan kawasan Australia menurun dengan jelas. Beberapa jenis marsupilia (mamalia berkantong) tipe Australia telah memasuki daerah Wallace, buung pelatuk Oriental telah terbang dari Bali lewat pulau-pulau sampai sedikit ke timur dari garis Wallace. Hewan Oriental seperti burung hantu, bajing, dan babi yang melintas Wallace ke timur saampai Sulawesi mungkin telah dibawa orang Melanisia sebagai makanan dan hewan piaraan.
Pada banyak kasus, garis Wallace sama sekali belum enjadi kabur. Jarak garis itu dari Bali dan dari lombok hanya 25 kilometer, tetapi perbedaan faunanya sungguh mengagumkan. Bali dan kawasan Oriental, telah dicapai oleh bajing dan harimau dari Asia. Akan tetapi, kedua hewan ini tidak menyebar  ke timur lebih jauh. Sebaliknya, lombok mmepunyai burung pemakan madu dari Australia yang tidak dikenal diBali. Di tempat lain sepanjang garis itu, opossum berbulu dari Australia terdapat di Sulawesi, tetapi tidak menyeberang ke Kalmantan yang jaraknya hanya beberapa kilometer. Burung kakatua, dari daerah Australia, menyebar ke barat tepat sampai pada garis Wallace, tetapi tidak melintasinya.
Menurut Weber, bagian kepulauan Indonesia tersebut di atas merupakan daerah peralihan bertahap antara kawasan Australia dan Oriental. Daerah yang merupakan tempat peralihan yang mencolok adalah Sulawesi.
d.      Flora Malesiana   
Lingkungan terrestrial cenderung berubah dalam suatu pola karakteristik dari utara ke selatan, karena letak garis lintang dari bukit ke puncak gunung. Perubahan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, sehingga pada akhirnya terbentuk zona tertentu membentuk bioma.
Bioma dapat diartikan sebagai macam komunitas utama yang terdapat pada suatu daerah yang dapat dikenal berdasarkan fisiognomi (penampakan). Faktor utama yang menenentukan pembagian bioma adalah ketinggian suatu tempat.
Garis perbatasan atau pemisah antara dua bioma, walaupun tidak jelas, disebut ekoton. Ekoton ditempati oleh tumbuhan dan hewan yang khas. Bioma-bioma umumnya ditentukan oleh vegetasi atau tumbuhan yang dominan. Hal ini cenderung mencerminkan iklim yang umum dari area tersebut. Ada berbagai bioma di dunia, yaitu gurun, padang rumput, hutan hujan tropis, hutan gugur, dan sabana.
1)               Gurun (padang pasir): bioma ini terdapat di Afrika, Amerika, Australia dan cina.
2)               Padang rumput: bioma ini terbantang dari daerah tropis hingga subtropis, misalnya di Amerika.
3)               Hutan hujan tropis: terdapat di daerah tropis dan subtropics, mislanya di Amerika selatan (Brasil), Asia (termsuk Indonesia), dan Afrika.
4)               Hutan gugur (deciduous forest): merupakan bioma yang khas di daerah beriklim sedang.
5)               Sabana: terdapat di kedua khatulistiwa, berkembang dengan lebih baik di Afrika dan Amerika selatan. Sabana terdapat juga di India, Asia Selatan, Australia Selatan, Australia, dan Indonesia (di Irian, NTT, dan NTB)
Indonesia mempunyai 2 di antara 5 bioma tersebut di atas, yaitu bioma hutan hujan tropis dan bioma sabana. bioma hutan hujan tropis yang memiliki keanekaragaman tumbuhan sangat tinggi adalah Malesiana.
Flora Malesiana maneliputi tumbuh-tumbuhan yang terdapat diwilayah Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Karena keanekaragamannya, tinggi maka dapat dikatakan bahwa flora malesiana merupakan sumber plasma nutfah.
Pada umumnya hutan-hutan di Indonesia didominasi oleh tumbuhan dari famili Dipterocarpaceae (tumbuhan berbiji bersayap), di antara meranti (Shorea sp). Meranti terdapat di hutan Kalimantan, Sumatra, Jawa, Sulawesi, Brunai, Malysia, dan pulau lainnya. Meranti dimanfaatkan kayunya untuk bahan bangunan.
Tumbuhan khas Malesiana yang terkenal adalah Rafflesia arnoldii. Parasit ini hidup melekat pada akar atau batang tumbuhan pemanjat Tetrastigma. Penyebaran Rafflesia meliputi Sumtra ( Aceh, Bengkulu), Malaysia, Kalimantan, dan Jawa. Di daerah ini juga terdapat 30 jenis palem termasuk di antaranya salak liar (Sallaca sp). Akan tetapi, salah telah terdistribusi ke seluruh pelosok Malesiana.
Di Papua ditemukan pohon buah khas yang disebut matoa (Pometia pinnata). Matoa memiliki perpaduan rasa buah durian dan rambutan. Buah matoa berangkai seperti anggur, berbentuk bulat kecil, dan berkulit tipis (Sharp 1994, Whitten % 1994;Slomon et al.2005)   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar